MisaHari Orang Sakit Sedunia 10 Februari 2018, Tuhanlah Gembalaku, Paroki Rawamangun.
Padabulan Oktober 2018, dengan Sinode Para Uskup dengan tema Orang-orang muda, iman dan penegasan panggilan, Gereja telah melakukan proses refleksi tentang kondisi kalian di dunia sekarang ini, terhadap pencarian makna dan rencana dalam hidup, terhadap hubungan kalian dengan Allah. Pada Januari 2019, saya bertemu dengan ratusan ribu teman-teman kalian dari seluruh dunia, yang berkumpul di Panama untuk Hari Orang Muda Sedunia.
2020- Hari Orang Sakit Sedunia Ke-28. 2019 - Hari Orang Sakit Sedunia Ke-27. 2018 - Hari Orang Sakit Sedunia Ke-26. 2017 - Hari Orang Sakit Sedunia Ke-25. 2016 - Hari Orang Sakit Sedunia Ke-24. 2015 - Hari Orang Sakit Sedunia Ke-23. 2014 - Hari Orang Sakit Sedunia Ke-22. 2013 - Hari Orang Sakit Sedunia Ke-21.
PesanBapa Suci Fransiskus untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-27 2019. February 11, 2019. BACAAN HARI INI: Kalender bulan ini: Post Terkini. PENGUMUMAN PAROKI TANGGAL 15 DESEMBER 2019; PENGUMUMAN PAROKI TANGGAL 1 DESEMBER 2019; PENGUMUMAN PAROKI TANGGAL 10 NOVEMBER 2019; PENGUMUMAN PAROKI TANGGAL 7 OKTOBER 2019;
Simaksejarah hari badut sedunia yang diperingati setiap tanggal 1-7 Agustus, rayakan hari badut melalui beberapa cara berikut ini. Rabu, 3 Agustus 2022 16:35 WIB Penulis: Oktaviani Wahyu Widayanti
HariOrang Sakit Sedunia. Hari Orang Sakit Sedunia ( World Day of the Sick) ditetapkan oleh Sri Paus Yohanes Paulus II dan mulai dirayakan pada 11 Februari 1993. Tema peringatan tahun 2022 : Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati (Luk. 6:36).
3rYy. MISA HARI ORANG SAKIT SEDUNIA 2018RS St. CAROLUS BORROMEUS KUPANG, NTTKupang, 11 Februari 2018— Bunda Gereja “Ibu, inilah, anakmu… Inilah, ibumu. Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya”. Itulah tema Hari Orang Sakit Sedunia ke 26 tahun 2018. Tema ini merupakan pesan Bapa Suci Paus Fransiskus untuk Hari Orang Sakit Sedunia HOSD ke 26 yang ditetapkan dari kata-kata yang diucapkan Yesus dari atas salib kepada Maria, Ibu-Nya, dan Yohanes. Kata-kata Tuhan itu dengan terang benderang menerangi misteri Salib, yang tidak menghadirkan tragedi keputusasaan, namun lebih tepatnya menunjukkan kemuliaan-Nya dan kasih-Nya sampai akhir. Kasih itu menjadi dasar dan kaidah bagi komunitas Kristiani dan hidup dari setiap murid HOSD di RS. Carolus Borromeus KupangPada hari Minggu 11 Februari 2018, RS St. Carolus Borromeus memperingati Hari Orang Sakit Sedunia yang secara rutin diperingati setiap tahunnya dengan mengadakan Misa Ekaristi dan pembagian bunga kepada orang sakit sebagai wujud empati dan kepedulian terhadap mereka yang menderita dan berkesesakan hidup. Misa pada HOSD ke-26 ini secara spesial dipimpin oleh Bapa Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, dan dihadiri oleh pasien serta karyawan RS St. Carolus Borromeus, juga umat Paroki-Paroki sekitar. Diperkirakan sebanyak lebih kurang 250 orang menghadiri misa peringatan HOSD yang diadakan di lobby depan RS St. Carolus Borromeus pada sore hari homilinya, Bapa Uskup menyampaikan peran rumah sakit Katolik yang memiliki fungsi sosial dan bukan sebagai rumah sakit yang berorientasi dalam pencarian keuntungan semata. Pelayanan tulus terhadap orang-orang sakit, terlebih yang menderita dan berkesesakan hidup harus menjadi inti daripada keberadaan rumah sakit Katolik. Hal ini memang secara nyata membedakan rumah sakit Katolik dari rumah sakit-rumah sakit lainnya, dimana pelayanan yang bersumber pada cinta kasih memiliki ketulusan dan warna pelayanan yang peduli terhadap sesama, dan hal ini senantiasa berusaha dihidupi dan diwujudkan oleh RS St. Carolus Herly Direktur RS. Carolus, Kupang memberi bunga kepada pasien anakSalah satu yang menjadi tradisi RS St. Carolus Borromeus dalam peringatan HOSD ini adalah pembagian bunga. Pembagian bunga dilakukan oleh para Konselebran dan oleh Direktur RS St. Carolus Borromeus kepada pasien-pasien, baik pasien yang berobat jalan maupun pasien di bagian rawat inap. Tampak wajah para pasien yang berubah menjadi gembira setelah menerima bunga, sehingga diharapkan pembagian bunga dapat membantu meringankan penderitaan psikis pasien yang sedang Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang berjabat tangan dengan pasienEduardus 54, salah seorang pasien yang dirawat di Ruang Rawat Inap RS St. Carolus Borromeus karena penyakit lambung, mengaku sangat gembira dan tidak menduga dapat berjabat tangan dan menerima Hosti langsung dari Bapa Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang. Momen langka ini terjadi ketika Bapa Uskup yang memimpin perayaan Misa Ekaristi membagikan Hosti kepada pasien-pasien yang terbaring di ranjang ataupun di kursi roda sehingga mengalami keterbatasan fisik untuk berjalan menerima Tubuh Kristus ke depan Altar. Eduardus pun sempat berjabat tangan dan mendapat berkat dari Bapa Uskup seusai Misa HOSD. “Saya merindukan bersalaman langsung dengan Bapa Uskup. Sudah 54 tahun saya hidup, tapi hal ini baru dapat terwujud hari ini”, ujarnya sembari tersenyum HOSD ini ditutup dengan kunjungan Bapa Uskup dan para Konselebran serta Suster-Suster Cinta Kasih Carolus Borromeus kepada para pasien yang menderita terbaring sakit dalam perawatan di RS St. Carolus Surat yang berisi pesan untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-26 tahun 2018 ini, Bapa Suci Paus Fransiskus mengatakan “Semoga Perawan Maria menjadi pengantara untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-26. Semoga ia membantu orang-orang sakit untuk menyatukan penderitaan mereka dengan penderitaan Tuhan Yesus. Dan, semoga ia mendukung mereka semua yang merawat orang sakit. Kepada semua orang sakit, pelayan kesehatan dan relawan, saya memberikan berkat Apostolik saya”. [/ERC]
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Hari Laut Sedunia, yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 8 Juni, adalah sebuah peringatan global yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya perlindungan dan konservasi lautan di seluruh dunia. Lautan adalah aset berharga bagi kehidupan di Bumi, memberikan sumber daya alam, mengatur iklim, dan menyediakan habitat bagi berbagai kehidupan laut. Namun, lautan kita saat ini menghadapi tantangan serius, seperti polusi, perubahan iklim, overfishing, dan kerusakan ekosistem. Dalam artikel ini, kami akan menjelajahi signifikansi Hari Laut Sedunia dan pentingnya mempromosikan upaya konservasi dan perlindungan lautan. Peran Lautan dalam Kehidupan KitaLautan menutupi lebih dari 70% permukaan Bumi dan menyediakan sekitar 97% dari seluruh air di planet ini. Mereka berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim global, mengatur suhu, dan menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis fitoplankton. Selain itu, lautan juga menyimpan sejumlah besar karbon, membantu memperlambat perubahan dampaknya pada iklim, lautan juga merupakan sumber daya yang kaya dan beragam. Mereka menyediakan makanan bagi miliaran orang di seluruh dunia dan menjadi sumber pendapatan bagi komunitas pesisir yang bergantung pada kegiatan perikanan. Lautan juga menyediakan bahan baku untuk industri seperti farmasi, energi, dan yang Dihadapi Lautan Meskipun pentingnya lautan bagi kehidupan kita, mereka saat ini menghadapi ancaman yang serius. Salah satu ancaman terbesar adalah polusi laut. Setiap tahun, jutaan ton sampah plastik dan limbah industri dibuang ke lautan, mengancam kehidupan laut dan mengganggu ekosistem. Plastik yang tidak terurai memicu masalah yang sangat serius, seperti pembentukan "pulau plastik" besar di tengah Samudra Pasifik dan kerusakan terhadap kehidupan laut yang memakan atau terperangkap oleh plastik. Perubahan iklim juga memiliki dampak besar pada lautan. Peningkatan suhu air laut, peningkatan asam laut, dan peningkatan tingkat karbon dioksida mengganggu ekosistem laut, menghancurkan terumbu karang, dan mengancam kelangsungan hidup spesies laut yang rentan. 1 2 3 Lihat Indonesia Lestari Selengkapnya
FX Wikan Indrarto Dokter Spesialis Anak RS Bethesda Yogyakarta, Alumnus S-3 UGM Hari Orang Sakit Sedunia World Day of the Sick ditetapkan oleh Sri Paus Yohanes Paulus II pada 13 Mei 1992 dan mulai dirayakan pada 11 Februari 1993. Bapa Suci menetapkan Hari Orang Sakit Sedunia HOSS setahun setelah didiagnosa menderita penyakit parkinson pada awal 1991. Apa yang sebaiknya kita ketahui? Ketiga tema HOSS yang terus- menerus didengungkan setiap 11 Februari adalah mengingatkan semua orang beriman untuk berdoa secara khusyuk dan tulus bagi mereka yang sedang sakit. Kedua, mengundang semua orang beriman untuk merefleksikan sakit dan penderitaan manusia. Ketiga, penghargaan bagi semua orang yang bekerja dalam bidang kesehatan. Subtema HOSS 2015 ini mengajak kita untuk merenungkan dari perspektif ”sapientia cordis ” kebijaksanaan hati seturut seruan Paus Fransiskus. Pertama, kebijaksanaan hati berarti melayani saudara-saudara kita yang sedang sakit, yang diawali dengan kemurnian hati, pelayanan dan bela rasa, sampai menghasilkan buah yang baik. Dalam pelaksanaan melayani orang sakit tersebut, kita diharapkan mampu bersikap seturut semangat Ayub,” Saya mata untuk orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh” Ayub 2915 kepada sesama yang sakit, khususnya orang miskin, anak yatim, dan janda. Hari ini juga kita semua diajak untuk menunjukkan bukan dengan kata-kata, tetapi dengan kehidupan yang berakar dalam iman sejati bahwa kita mampu menjadi ”mata untuk orang buta” dan ”kaki bagi orang lumpuh”. Pelayanan kita tidaklah harus dilakukan dengan menjadi petugas kesehatan bagi para pasien. Sebenarnya kita dapat sekadar dekat dengan orang sakit, terutama yang membutuhkan perawatan lama, membantu dalam memandikan, berpakaian, mencucikan dan menyuapkan makanan. Layanan sederhana seperti ini terutama bila dilakukan berkepanjangan, pastilah dapat menjadi sangat melelahkan dan memberatkan. Apalagi pada pasien yang sakit berat sudah pasti tidak lagi mampu mengungkapkan rasa terima kasihnya, karena kesadarannya sudah jauh menurun. Meskipun tidak ada yang menginginkannya, setiap manusia akan mungkin mengalami sakit, penderitaan, bahkan dapat berlanjut dengan kematian. Sakit yang ringan sekalipun sebaiknya digunakan sebagai sebuah momentum penting untuk mensyukuri sehat. Apalagi sakit berat, kronis, dan kemungkinan sembuhnya kecil seperti kanker, sudah seharusnya menjadi momentum untuk menyatukan kita semua umat manusia. Kita diingatkan untuk bersandar pada Tuhan menyadari pentingnya iman bagi mereka yang sakit dan berbeban berat untuk datang kepada Tuhan. Dalam pertemuan dengan Tuhan melalui caranya masingmasing, mereka yang sakit akan menyadari bahwa dirinya tidak sendirian. Kita dapat membantu orang sakit agar masa penderitaannya dapat diubah menjadi masa rahmat. Sering kali dalam penderitaan sakitnya orang mudah terjatuh untuk menjadi putus asa dan kehilangan harapan. Pada saat itulah kita yang sehat sebaiknya menekankan akan penyertaan Tuhan, sehingga masa sakit tersebut dapat diubah menjadi masa rahmat Ilahi dengan permenungan mendalam untuk mengevaluasi kembali hidup seseorang, mengakui kegagalan, buruknya perilaku hidup, dan kesalahan, serta membangkitkan kerinduan akan Tuhan dan mengikuti jalan menuju rumah-Nya. Kedua, kebijaksanaan hati seharusnya diartikan bahwa waktu yang kita habiskan dengan orang sakit, apalagi melayaninya, adalah waktu suci. Sering kali kita lupa nilai khusus tentang waktu yang dihabiskan di samping tempat tidur orang sakit, karena alasan terburuburu dan terjebak dalam hirukpikuk aktivitas rutin. Kebijaksanaan hati berarti bahwa kita memberikan waktu mendampingi saudara yang sakit, karena kita secara bebas mengurus dan bertanggung jawab untuk orang lain. Ketiga, kebijaksanaan hati berarti menunjukkan solidaritas dengan saudara-saudara kita dan tidak menghakimi mereka atas sakit yang mereka alami. Saat mengunjungi, merawat, dan menemani orang sakit, diam saja pun sudah mencukupi seperti teman-teman Ayub ”Dan mereka duduk dengan dia di tanah tujuh hari tujuh malam dan tidak ada yang berbicara sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat bahwa penderitaannya sangat besar.” Ayub 213. Bagi kita semua yang sehat, memberikan pendampingan, penghiburan dan perhatian untuk mereka yang sakit sangatlah berarti. Selain itu, kita disadarkan akan pergerakan roda kehidupan. Pada saat sehat kita seharusnya meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan dana untuk membantu mereka yang sakit. Pada saat yang lain sangat mungkin kita sendiri justru menjadi orang yang sakit dan memerlukan hal sama dari semua orang di sekitar kita sebagaimana pergerakan dan putaran roda sistem Jaminan Kesehatan Nasional JKN yang sekarang berlaku di Indonesia, kendali mutu dan kendali biaya pelayanan kesehatan untuk pasien yang sakit akan lebih mudah terwujud. Kendali tersebut juga penjaminan pembiayaan pasien dilakukan oleh BPJS Kesehatan. Hal ini dapat terwujud karena kebebasan profesi dokter semakin mampu direduksi, kompleksitas masalah medis pasien makin dapat diabaikan, dan mutu pelayanan medik yang dilakukan semakin dapat disetarakan. Jaminan pembiayaan pasien apabila tetap di dalam pengendalian akan dapat menjangkau seluruh rakyat Indonesia universal health coverage dengan dana BPJS Kesehatan yang tersedia. Terjadi perubahan besar dalam sistem pembiayaan kesehatan di Indonesia setelah sistem JKN diberlakukan sejak 1 Januari 2014. Jasa medis yang diterima petugas kesehatan pada umumnya terjadi penurunan nominal dibandingkan dengan pada saat sistem kesehatan yang lama. Penghargaan bagi petugas kesehatan layak diberikan terutama karena dedikasinya yang tetap tinggi dan tidak berubah dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi para pasien sesuai ketentuan dalam program JKN. Dengan momentum Hari Orang Sakit Sedunia 11 Februari 2015 kita diingatkan agar memiliki kebijaksanaan hati bagi para orang sakit. Sudahkah kita bertindak untuk meringankan beban orang sakit di sekitar kitaars
– Dalam beberapa tahun terakhir ini, di paroki kami selalu dirayakan Hari Orang Sakit Sedunia. Apa tujuannya? Selain ajakan untuk lebih banyak memperhatikan dan berdoa bersama untuk orang sakit, apakah iman kita mempunyai andil dalam penyembuhan? Veronika Irmawati, 085233207xxx Pertama, pada 13 Mei 1992, Paus Yohanes Paulus II menetapkan 11 Februari sebagai Hari Orang Sakit Sedunia HOSS dan mulai dirayakan pada 11 Februari 1993. Penetapan ini hanya berjarak setahun setelah dia didiagnosa menderita penyakit Parkinson pada awal 1991. Menurut Bapa Suci Yohanes Paulus II, HOSS dibaktikan sebagai “hari khusus untuk doa dan berbagi, untuk mempersembahkan penderitaan kita”. Tujuan itu kemudian dirinci, yaitu 1 mengingatkan umat beriman untuk berdoa secara khusyuk dan tulus untuk mereka yang sakit; 2 mengundang semua orang Kristiani untuk merefleksikan dan menanggapi penderitaan manusia; 3 mengakui dan menghormati semua orang yang bekerja dan melayani dalam bidang kesehatan dan berbagai pemerhati kesehatan. Kedua, bersama dengan ajakan untuk solider dan peduli kepada orang sakit, HOSS juga gencar mengajak umat menyadari peran iman, baik dalam menghadapi penderitaan dan sakit, maupun dalam proses penyembuhannya. Kita selalu diingatkan bahwa mukjizat-mukjizat Yesus masih terus terjadi, melalui kehadiran-Nya dalam sakramen-sakramen, terutama melalui sakramen-sakramen penyembuhan Rekonsiliasi dan Pengurapan Orang Sakit, dan secara khusus melalui Sakramen Ekaristi. Penetapan Pesta Bunda Maria dari Lourdes, 11 Februari, sebagai HOSS membawa pesan iman ini. Penyembuhan dan mukjizat yang terjadi di Lourdes membuktikan, bahwa mukjizat penyembuhan masih terjadi, terus terjadi dan akan terjadi. Semua itu terjadi karena iman. Maka kata-kata perwira yang digunakan dalam liturgi Ekaristi sebelum komuni, adalah ungkapan iman yang nyata, bukan sekadar pelengkap liturgis “Ya Tuhan saya tidak pantas, Tuhan datang pada saya, tetapi berkatalah saja, maka saya akan sembuh”. Apa yang terjadi di Lourdes, bisa terjadi juga di manapun di seluruh dunia, jika kita sungguh beriman seperti perwira itu “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya” Mat 813. Ketiga, pemilihan tanggal 11 Februari juga punya makna mengikutsertakan Bunda Maria dalam permohonan akan kesembuhan. Seperti halnya dalam perkawinan di Kana, permohonan yang dibawa bersama Bunda Maria dan melalui Yesus, akan didengarkan oleh Allah Bapa. Kita diundang untuk meniru iman Maria yang luar biasa pada Yesus, yaitu ketika Maria meminta para pelayan, untuk melakukan apa saja yang diperintahkan Yesus, meskipun Yesus mengatakan “Saat-Ku belum tiba.” Yoh 2 4-5. Peran Bunda Maria sebagai Ibu yang peduli pada anak-anaknya, mendapatkan penekanan dalam tema HOSS tahun 2018 ini, yaitu “Mater Ecclesiae Ibu, inilah anakmu! Inilah ibumu! Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya’” Yoh 1926-27. Sebagai ibu, Bunda Maria pasti tidak akan membiarkan anak-anaknya berada dalam kesulitan dan penderitaan. Seperti dalam perkawinan di Kana, Bunda Maria akan membawa kebutuhan-kebutuhan kita, melalui Yesus kepada Allah Bapa. Keempat, dalam pesan Bapa Suci yang diterbitkan setiap tahun dalam rangka HOSS, tak henti-hentinya para Bapa Suci, menekankan secara khusus tugas Gereja untuk memberikan sakramen-sakramen penyembuhan, yaitu Sakramen Rekonsiliasi dan Pengurapan Orang Sakit, yang umumnya mencapai puncaknya dalam Ekaristi. Dimensi penyembuhan riil dari sakramen-sakramen inilah yang perlu ditekankan kembali. Gereja melanjutkan kepedulian Yesus Kristus kepada orang sakit, dan melalui kuasa penyembuhan dari sakramen-sakramen itu, Yesus terus hadir dan bekerja di tengah-tengah umat. Petrus Maria Handoko CM
hari orang sakit sedunia 2018